Berita & Informasi

boks OKE

Meskipun berada di wilayah perdesaan, tak menyurutkan semangat tenaga pengajar dan siswanya untuk membuat inovasi. Salah satunya, dengan merakit sepeda listrik.

Berjarak sekira 24 kilometer dari pusat Kota Serang, SMKN 1 Tunjungteja berada di tengah-tengah wilayah perdesaan. Kemarin siang (21/8), suasana lingkungan SMKN Tunjungteja tampak sunyi. Sejumlah siswa sedang fokus mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di ruang kelasnya masing-masing.

Bangunan SMKN 1 Tunjungteja tidak semegah sekolah-sekolah di perkotaan. Bangunannya terbilang sederhana bercat abu-abu dan krem. Di gerbang sekolah, seorang petugas keamanan memberhentikan laju kendaraan kami. Bermaksud menanyakan tujuan ke sekolah.

Setelah bercakap beberapa kata, petugas keamanan pun mengarahkan ke suatu ruangan. Di ruangan itu, tampak tiga unit sepeda berjajar. Satu unit sepeda seperti jenis BMX, satu lagi seperti sepeda gunung, dan satu lainnya seperti sepeda scooter berkeranjang. Dua sepeda di antaranya tampak sedang dialiri listrik dengan menggunakan saluran kabel.

Sekilas tidak ada yang beda dari penampilan sepeda seperti biasanya. Sepeda tersebut memiliki roda dua, batangnya pun tidak ada yang beda dari sepeda konvensional. Di bagian batang sepeda tertuliskan SMKN Tunjungteja, menunjukkan label hak cipta. Pada bagian lain juga tertulis nama ‘SELIS’, kepanjangan dari sepeda listrik. Di bagian stang sebelah kanan, bagian pegangan tangan bisa diputar seperti pengatur gas motor.

Di antara dua batang sepeda terdapat boks hitam yang tidak terlalu besar. Di dalam boks itu, terlihat saluran kabel yang cukup rumit. Kabel-kabel itu tersambung ke bagian roda belakang. Di bagian kepala sepeda, terdapat alat ukur daya listrik. Sepeda itu juga dilengkapi dengan lampu penerang di bagian stangnya.

Di sudut ruangan, Kepala SMKN Tunjungteja Sudarul Bahri menyapa Radar Banten dengan jabatan tangan diiringi senyuman. Ia pun kemudian membeberkan gagasan terkait perakitan sepeda listrik tersebut. Berikut dengan keistimewaannya dibandingkan sepeda seperti biasanya.

Pria yang akrab disapa Darul itu menyebutkan, sepeda listrik sudah digagasnya sejak tiga tahun lalu. Namun, saat itu sempat mengalami vakum. Kemudian, sepeda listrik mulai dirakit pada Juni 2019 dan sudah berhasil memproduksi tiga unit sepeda listrik. “Ini sebenarnya sudah lama kita rencanakan, tapi kemudian sempat vakum,” katanya.

Sepeda listrik tersebut merupakan buah kerja sama antara SMKN Tunjungteja dengan PT Juara Bike, perusahaan yang bergerak pada produksi sepeda konvensional dan sepeda listrik di Cikupa, Tangerang. Dengan perusahaan ini, SMKN Tunjungteja memulai belajar merakit sepeda listrik.

Tak lama menjalin kerja sama, siswa-siswi SMKN Tunjungteja sudah bisa merakit sepeda listrik secara mandiri. Proses perakitan hanya membutuhkan waktu 10 menit saja. “Kalau perakitan cepat, jadi kita hanya merakit barang-barang baku untuk menjadi bahan dasar sepeda listrik,” uajr pria yang akrab disapa Darul.

Meski sudah bisa merakit sepeda listrik sendiri akan tetapi pihak sekolah belum bisa memproduksinya secara mandiri. Proses produksi dilakukan di PT Juara Bike. “Karena kita kan keterbatasan sarana prasarana,” ujarnya.

Dirakit pada Juni 2019, saat ini SMKN Tunjungteja sudah menciptakan tiga unit sepeda listrik. Sepeda listrik tersebut mempunyai daya listrik 350 watt dengan jarak tempuh 20 kilometer hingga 35 kilometer. Sepeda listrik ini dapat melaju dengan kecepatan 25 kilometer per jam. “Kalau digas sambil digoes, kecepatannya makin tinggi,” kata Darul.

Sementara ini, pihak SMKN Tunjungteja baru merakit tiga sepeda listrik sebagai sampel. Sambil menunggu pesanan, pihak sekolah bersama PT Juara Bike sedang mempromosikan tiga unit sepeda listrik rakitan siswa SMKN Tunjungteja. “Sudah ada beberapa pesanan, tapi belum kita follow up,” ujarnya.

Sepeda listrik ini dibanderol dengan harga yang berbeda-beda sesuai dengan speknya. Untuk jenis thunder flash atau BMX dibandrol Rp5,3 juta. Kemudian, jenis Flying Fox Rp8,95 juta, dan jenis Hornet Rp7,15 juta. Kata Darul, proses perakitan sepeda listrik mengandalkan dana dari bantuan operasional sekolah (BOS) dan bantuan operasional sekolah daerah (Bosda).

Dikatakan Darul, semangat merakit sepeda listrik didasarkan pada semangat merubah mindset masyarakat dan siswa di Tunjungteja. Menurutnya, meskipun berada di peloksok desa, kemajuan pendidikan tidak boleh tertinggal oleh wilayah perkotaan. “Yang namanya SMK, itu tidak mengenal di perdesaan ataupun di perkotaan, tergantung cara berpikir kita,” pungkasnya. (*)

Tangerang – Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Muhamad Yusuf, bersama Kepala UPTD TIKPK, Rudi Prihadi, mendatangi SMAN 18 Kab. Tangerang hari Jumat (1/11/2019) sekitar pukul 08.30 WIB.

Dalam sambutan sekaligus pembinaan kepada Tenaga Pendidik dan Kependidikan, Kepala Dinas mengatakan ‘Ilmunya sudah multidispliner tidak lagi linear, makanya bukan lagi how to learn (bagaimana belajar), tapi what to learn (tapi apa yang kita pelajari), dari banyaknya ilmu yang ada di muka bumi ini kita ini mau kemana dan apa yang harus kita lakukan”.

11

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Baten, Muhamad Yusuf didampingi Kepala UPTD TIKPK Rudi Prihadi dan Kepala Sekolah Heri Supriatna menggunting pita secara simbolis dalam peresmian ruang kelas baru SMAN 18 Kab. Tangerang, Jumat (1/11/2019).

 

Pendidikan di Indonesia harus mencakup kemampuan akademik atau yang sering disebut hard skill, dan kemampuan non akademik alias soft skill.

"Kita tidak ingin seorang anak jago matematika, jago di pelajaran biologi, tapi tidak bisa diatur, tidak hormat pada orang tua dan guru, ini soft skill lemah," ujar Kepala Dinas.

Kepala Dinas Juga menyampaikan supaya kita tidak terlalu nyaman dengan keadaan, karena kalau kita terlena dengan kenyamaan saat ini kita akan dirubah oleh lingkungan, jadi saat ini walau menjabat kepala sekolah disini kita harus berpikir jabatan ini, sesuai dengan undang undang no 5 tahun 2014 tentang aparatur sipil negara,

Usai memberikan sambutan, beliau menandatangani prasasti sebagai simbol peresmian ruang kelas baru di SMAN 18 Kab. Tangerang. Dilanjutkan dengan menggunting pita sebagai tanda peresmian penggunaan ruang kelas baru

Kepala Dinas beserta rombongan pun diajak untuk meninjau ruang kelas baru oleh Kepala SMAN 18 Kab. Tangerang Heri Supriatna.

Ruang kelas baru dibangun dua lantai terdiri dari empat kelas. Satu per satu ruang kelas didatangi oleh rombongan. Kepala Sekolah mengatakan bahwa biaya pembangunan kelas baru berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

Kemudian Kepala Dinas meninjau ke lantai atas. Di ruang lantai atas, Kepala Dinas melihat ke bawah bagian kelas lewat jendela merasakan suasana ruang kelas baru tersebut. Kepala Sekolah Heri Supriatna kemudian menjelaskan proses pembangunan ruang kelas baru kepada Kepala Dinas. Setelah satu persatu ruang kelas baru dilihat, Kepala Dinas beserta rombongan kembali menuju tempat jamuan makan siang dan meninggalkan sekolah SMAN 18 Kab. Tangerang.*ZA*

Penulis: Zaenal Andari

Editor: Arif Munandar

Serang - Salah seorang guru Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Panggarangan, Ai Wenny Purnama Putri, terpilih sebagai Duta  Rumah belajar tahun 2019 tingkat nasional. Dari 28.000 guru yang mengikuti tersebut, hanya 40 orang yang terpilih sebagai tutor nasional portal belajar. Peserta yang berasal dari 34 provinsi, dua diantaranya berasal dari Banten yaitu guru asal SMAN 2 Kota Tangsel dan guru SMAN 1 Panggarangan Kabupaten Lebak.

Ai Wenny Purnama Putri menuturkan, sebelum menjadi duta rumah belajar tersebut, pihak Pusat Tekhnologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan kebudayaan, pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekom Kemdikbud), melakukan Proses seleksi melalui bimbingan teknis program Pembelajaran berbasis TIK (PembaTIK) yang diikuti 28 ribu guru se-Indonesia.

PembaTIK Level 1 tentang Literasi TIK (20 Maret - 21 April 2019), kemudian PembaTIK level 2 tentang Implementasi TIK (19 Juni - 05 Juli 2019), PembaTIK level 3 tentang Kreasi TIK (4 September - 12 Oktober 2019) dan terakhir yaitu PembaTIK level 4 tentang Berbagi TIK/Lokakarya (12 - 15 November 2019).


duta rumah belakjar

 

"Dari ribuan peserta, selanjutnya hanya  40 orang dikukuhkan sebagai Duta Rumah Belajar Nasional 2019 pada tanggal 13 November 2019 di Balai Kartini, Jakarta," kata Ai, guru asal SMAN 1 Panggarangan yang telah dinobatkan sebagai tutor nasional rumah belajar, kepada wartawan
 Dikatakan Ai, sebagai duta rumah belajar tentu memiliki tanggungjawab yang harus dilakukan dengan profesional, terutama menyosialisasikan tentang rumah belajar, yang saat ini dimilki oleh Kemendikbud  dalam mengembangkan dan mendayagunakan tekhnologi informasi dan komunikasi, dalam memanfaatkan rumah belajar di portal milik Kemendikbud baik oleh guru maupun siswa.

"Untuk mengarahkan dan memanfaatkan fasilitas tersebut, sebagai sarana belajar, guru bisa mengaplod vidio tutorialnya dan siswa dapat dengan mudah mengakses sekalipun berada ditempat yang jauh, atau bisa dilakukan dimanapun," papar Ai.

Ai juga mengatakan, agar mutu pendidikan meningkat salahsatunya adalah dengan memanfaatkan teknologi, sebagai sarana belajar yang efektif. Selaku duta rumah belajar, tentu menjadi kewajiban untuk membantu bagi sekolah yang telah siap dengan perangkatnya. 

"Kami akan membantu memberikan bagaimana memanfaatkan rumah belajar di portal milik kemendikbud ini," ujarnya.

Sementara itu kepala SMAN 1 Panggarangan, Ujang Witanwi, bangga dan mengapresiasi atas raihan prestasi salah seorang guru SMAN 1 Panggarangan, mampu memberikan yang terbaik untuk perkembangan dunia pendidikan. Sebab, saat ini dunia teknologi sudah menjadi kebutuhan, namun bagaimana mengelolanya dan memanfaatkanya sebagi ruang belajar. 

"Oleh karenanya portal yang ada milik Kemendikbud ini, bisa dimanfaakan sebagai fasilitas belajar yang baik selain tatap muka," ujar Ujang. (matin)

Sumber Berita Bantenekspose.com

Halaman 1 dari 20